DALAM waktu dua hari setelah jamuan makan malam di Hotel Atjeh, Panitia Dakota Found berhasil membuat para perempuan Aceh melepas cincin, kalung, anting, dan segala perhiasan emas dan perak. Dalam waktu dua hari terkumpul dana sekitar 120.000 Straits Dollar (Dollar Singapura) dan 20 kg emas.
What's On
FOTO: It's TIME to Aceh
Stan Garuda Indonesia Aceh di TIME 2014. Pasar Wisata Indonesia tahun ini menghadirkan tema yang unik yaitu "It's TIME to Aceh". Waktunya ke Aceh...
Garuda Indonesia Boarding Pass True Value ( BPTV )
Tambahan Keistimewaan terbang bersama Garuda Indonesia. Nikmati potongan harga dengan menunjukan Boarding Pass anda pada merchant-merchant yang telah bekerja sama dengan kami, seperti " Hotel, Resort, Spa, Tempat Rekreasi, Restoran dan Pusat Perbelanjaan
FOTO: It’s TIME to Sabang
SEKIRA 160-an peserta Pasar Wisata Indonesia atau Tourism Indonesia Mark & Expo (TIME) 2014 diberi kesempatan keliling Pulau Weh pada Minggu, 26 Oktober 2014
GO Express, Pengiriman Paket Tepat Waktu
Garuda Indonesia Cargo menghadirkan produk GO Express. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di mana semakin bertambahnya permintaan akan pengiriman port to city dan port to door.
Friday, October 24, 2014
Dari Seulawah ke Garuda (2)
DALAM waktu dua hari setelah jamuan makan malam di Hotel Atjeh, Panitia Dakota Found berhasil membuat para perempuan Aceh melepas cincin, kalung, anting, dan segala perhiasan emas dan perak. Dalam waktu dua hari terkumpul dana sekitar 120.000 Straits Dollar (Dollar Singapura) dan 20 kg emas.
Sebelum berkunjung ke Aceh pada 16-20 Juni 1948,
Pemerintah RI telah mengagendakan keinginan beli pesawat angku di Jakarta. KSAU
Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma memprakarsai ide pembelian pesawat itu.
Biro Rencana dan Propaganda TNI AU yang dipimpin OU II Wiweko Supono dan OMU II Nurtanio Pringgoadisuryo dipercaya
sebagai pelaksana ide tersebut.
Biro tersebut lantas menyiapkan 25 model pesawat Dakota.
Kemudian, Kepala Biro Propaganda TNI AU, OMU I J. Salatun ditugaskan mengikuti
Presiden Soekarno ke Sumatera dalam rangka mencari dana. Hingga akhirnya dana
itu diperoleh dari sumbangan masyarakat Aceh di ujung barat Indonesia.
Opsir Udara II Wieko Soepono kemudian ditugasi
membeli pesawat. Selang tiga bulan, satu unit Dakota DC-3 berhasil didapatkan,
milik seorang penerbang Amerika Mr JH Maupin di Hongkong. Pesawat dengan kode
VR-HEC itu mendarat di Maguwo Padang dan kemudian diregistrasi RI-001.
Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan
19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt &
Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346
km/jam.
Soekarno menamai Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh
itu dengan Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti "Gunung
Emas", merupakan nama sebuah gunung di Aceh. [btj03]


